Mengukur suhu basal tubuh
Bukan sekedar iseng, jika rajin mengukur dan mencatat suhu basal tubuh, akan terlihat pola yang unik yang menandakan masa subur. Mau coba, ini caranya.

  1. Suhu diukur pada waktu yang hampir sama setiap pagi, sebelum bangun dari tempat tidur.
  2. Catat suhu dan gunakan catatan suhu di 10 hari pertama dari siklus haid untuk membandingkan suhu tertinggi saat kondisi tubuh normal dan tidak sedang sakit. Abaikan jika suhu tinggi disebabkan oleh demam atau gangguan lain.
  3. Tarik garis pada 0,05–0,1 derajat celcius di atas suhu tertinggi dari suhu 10 hari tersebut. Garis ini disebut garis pelindung (cover line) atau garis suhu.
Baca datanya:  
  • Periode tidak subur dimulai pada sore hari, setelah tiga hari berturut-turut suhu tubuh berada di atas garis pelindung.
  • Jika salah satu dari 3 suhu berada di bawah garis pelindung (cover line) selama 3 hari, kemungkinan tanda ovulasi belum terjadi.
  • Suhu saat terjadi ovulasi biasanya lebih rendah dibanding suhu saat menstruasi.
  • Suhu saat menstruasi sebesar 36.00 derajat celcius, terjadi selama 8 hari.
  • Suhu setelah menstruasi berkisar antara 36.1-36.3 derajat celcius.
  • Suhu saat ovulasi, biasanya 35.8 derajat celcius.
  • Suhu setelah ovulasi, biasanya 36.4-36.7 derajat celcius.
  • Jika suhu setelah ovulasi bertahan di angka 36.4-36.7 derajat celcius selama 18 hari, dan melewati tanggal menstruasi, mungkin saja Anda hamil.
  • Tapi bila suhu setelah ovulasi tinggi, lalu esoknya drop ke suhu sebelum ovulasi 36.1-36.3, berarti anda akan menstruasi dan belum hamil.
Baca juga:
Mengenal suhu basal tubuh


Baca Juga :